Destana Ulusalu, Membangun Ketahanan dari Risiko menuju Kesiagaan
Terletak di Desa Ulusalu, Kabupaten Luwu—di mana sekitar 39,7% wilayahnya tergolong rawan longsor dan banjir—masyarakat setempat menghadapi risiko bencana yang berulang, termasuk terputusnya akses akibat jalan yang tertutup. Melihat kondisi tersebut, Masmindo menginisiasi program Desa Tangguh Bencana (Destana) bekerja sama dengan Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP), Palang Merah Indonesia (PMI) Luwu, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Program ini didasarkan pada pemahaman bahwa penguatan kapasitas masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur fisik.
Sebelum program ini berjalan, Desa Ulusalu belum memiliki tim kesiapsiagaan bencana yang terstruktur, prosedur evakuasi yang jelas, maupun praktik pengelolaan lahan yang aman—dengan sebagian masyarakat masih mengandalkan pertanian di lereng yang berisiko. Melalui Destana, masyarakat mendapatkan pelatihan dasar terkait manajemen bencana, termasuk perencanaan evakuasi, pertolongan pertama, serta koordinasi tanggap darurat. Lebih dari 100 rumah tangga berpartisipasi dalam tiga sesi pelatihan dan simulasi evakuasi, yang kemudian menghasilkan pembentukan satu tim kesiapsiagaan bencana di tingkat desa.
Salah satu kekuatan utama Destana Ulusalu terletak pada pendekatannya yang terintegrasi. Selain meningkatkan kesiapsiagaan bencana, program ini juga mendorong praktik pertanian yang lebih aman dan berkelanjutan melalui pengembangan budidaya berbasis greenhouse. Pendekatan ini membantu mengurangi aktivitas pertanian di lereng curam yang berisiko, sekaligus mendukung stabilitas pendapatan masyarakat. Sebagai tahap awal, pembangunan greenhouse telah dilakukan, dengan indikasi awal peningkatan hasil panen serta berkurangnya tekanan terhadap lingkungan.
Proses pemantauan dan evaluasi dilakukan secara berkala setiap semester, bekerja sama dengan UNCP, tim Emergency Response Team (ERT) Masmindo, serta pemerintah desa, untuk memastikan efektivitas dan pengembangan program secara berkelanjutan. Dengan desain yang dapat direplikasi, model Destana ini diharapkan dapat diterapkan di desa-desa lain di wilayah Latimojong guna memperkuat ketahanan kawasan secara lebih luas.
Melalui Destana Ulusalu, Masmindo menunjukkan bahwa pengurangan risiko bencana, ketahanan penghidupan, dan pengelolaan lingkungan dapat berjalan secara selaras. Dengan mendorong pendekatan berbasis komunitas, program ini berupaya membangun kemandirian masyarakat dalam menghadapi risiko sekaligus mendukung keberlanjutan jangka panjang.